SAYA BUKANLAH MEREKA
"Sebaik-baiknya perpisahan, selalu meninggalkan alasan"
Sejujurnya, saya tidak terlalu nyaman bila harus menyampaikan apa yang mungkin akan meninggalkan kesedihan, terlebih saya sangat membenci perpisahan, tapi tolong anggap saja ini adalah cara saya berpamitan untuk membayar dan menghapus kehadiran.
Ya. Kemungkinan besar saya akan berhenti menggunakan sosial media untuk satu alasan kesehatan yang akhir-akhir ini cukup membuat saya kesakitan.
Seberapa menyakitkan? Sayangnya, hal semacam itu tidak pantas dijadikan pertanyaan. Tapi, saya yakin bahwa separah apa pun kesakitan, pasti akan menuntun kita pada sebuah kekuatan.
Sedikit informasi, sebelumnya saya telah berkali-kali menutup akun seperti yang akan saya lakukan ini. Bukan karna alergi untuk bersosialisasi atau ada netizen yang membuat saya benci. Tapi, kembali saya ulangi, saya adalah produk depresi yang sangat memperhatikan privasi dan memiliki ketergantungan dengan keadaan "sendiri."
Bila diterjemahkan: ya. Kesehatan saya dari dalam diri ini.
Saya benci pujian.
Saya benci ketenaran.
Saya benci keramaian.
Saya benci di-elu-elu-kan.
Dan apakah kalian tahu apa yang saya rasakan ketika semua itu datang secara bersamaan?
Ya: kehancuran.
Mengapa?
Sederhana, sebab secara bawah sadar, saya dan hati kecil saya menjadi terbebani dan tertuntut oleh berjuta harapan.
Mari kita bicara tentang kehidupan di media sosial.
Tidak sedikit orang akan terpingkal-pingkal lalu menyatakan bahwa media sosial adalah tempat pelarian yang paling masuk akal ketika realita di dunia nyata mereka terlalu membuat napas mereka tersengal.
Tapi, bukankah ketika kita lari dari kenyataan dan bersembunyi di balik topeng kepalsuan adalah soal?
Mari, bukalah pikiran dan izinkan saya menjelaskan:
Sepahit apa pun kenyataan, ia tidak akan pergi selama kita tidak bisa membuatnya pergi.
Kita harus hadapi.
Ya. Kita harus hadapi untuk membuatnya pergi atau setidaknya membuat hatimu dan kenyataan pahit itu berjabat tangan pada satu solusi.
Jangan salah memahami.
Saya tidak memaksa kalian untuk berhenti berselancar di dunia yang -bagi saya- khayali.
Saya hanya ingin berbagi pemikiran tentang kenyataan yang mungkin kelak akan kalian temukan, kekosongan yang kelak mungkin akan kalian rasakan, atau kepalsuan yang kelak mungkin akan membuat waktu kalian terasa tersia-siakan.
Sekali lagi, silakan bermain, asal tidak bermain-main.
Berbagi adalah salah satu cara untuk bersosial,
Tapi -bagi saya- jika itu berarti harus menggadaikan privasi, tentu itu akan menjadi soal.
Saya tidak pernah betul-betul paham apa yang seharusnya saya bagi. Jika itu karya, itu akan menjadi luar biasa. Tapi jika itu berbagi seluk-beluk kehidupannya? Saya khawatir iri bahkan membenci adalah peperangan tanpa ekspresi yang akan menjadi "biasa."
Apakah saya terlalu banyak bicara?
atau kenyataan terlalu robek saya buka?
Entah.
Saya hanya mencoba menjadi manusia.
Pernahkah kalian duduk di beranda lalu melihat lalu-lalang manusia dengan beragam huru-haranya?
Tapi apakah kalian pernah merasa seakan beban mereka adalah bebanmu juga?
Jika kalian melihat sejuta perseteruan, apakah kalian pernah merasa seakan kalian diciptakan untuk hadir meleraikan?
Jika kalian melihat gambar atau berita seorang anak sedang dihantam kesedihan, apakah kalian pernah merasa tertuntut seakan kalian adalah orang tua yang harus mempertanggung-jawabkan?
Itu saya. Zhaky Alwy: yang diam-diam ingin membantu dunia dengan apa yang saya punya dan melakukan apa yang saya bisa.
Tapi faktanya, semua itu tidak mudah.
Selalu ada kurang dan lemah yang membuat orang seperti saya terjatuh, berdarah, lalu kemudian ingin sekali untuk menyerah.
Banyak orang ingin mengenal saya ketika bahkan saya tidak bisa mengenal diri saya.
Banyak orang seolah tahu siapa saya ketika bahkan saya tidak tahu siapa diri saya.
Saya membentuk diri saya menjadi semacam bayangan: yang tak ingin tersentuh dan tak bisa dibunuh. Tak perlu ada yang tahu siapa saya. Tak butuh ada yang kenal dengan kepribadian saya. Saya tak ingin dibenci ataupun dipuji. Cukup rasakan bahwa saya tercipta untuk dan ingin sekali membantu kalian dalam menemukan makna dari setiap kejatuhan dan berbagai kekecewaan.
Mengapa? Sebab menyelamatkan adalah alasan untuk membuat saya terselamatkan.
Saya hanya berharap, semoga apa yang saya pernah beri akan berdampak positif untuk kehidupan kalian nanti.
Dan bila suatu hari kalian mendengar nama saya, mudah-mudahan itulah alasan terbaik munculnya senyummu lagi.
Saya akan tetap aktif berkarya di kanal website pribadi saya: https://zhakyFalwy31.blogspot.com , untuk Twitter dan Instagram, saya pribadi tidak akan lagi mengurusi, tapi bila di antara kalian ada yang melihat dua kanal itu menjadi sumber kebaikan dan ingin berpartisipasi sukarela menjadi admin yang mengurusi, tentu mendapat email kalian akan dengan senang hati.
Terkadang, saya berharap bisa seperti public figure yang bersinar dengan sosial media mereka, tapi saya sadar, saya bukan mereka;
Saya Zhaky Faizullah Alwy;
Yang selalu tidak ingin dan tidak bisa sama.
Salam Aksara,



Komentar
Posting Komentar