MENGAMBANG BIMBANG
Maaf bila di tulisanku kali ini , kau tidak menemukan dimana letak keindahan kata atau kerumitan pemikiran seorang penyair gila , sebab aku hanya ingin....Hmm...aku hanya ingin menulis tanpa perlu berpikir , aku hanya ingin membebaskan hatiku dari endapan kalimat-kalimat yang saling terikat dan berakhir menjadi penat.
Tak kunjung selesai aku memahami diriku sendiri. Selalu ada hal yang baru setiap harinya yang membuatku harus duduk termenung menyisikan segala kesibukan untuk fokus pada satu pemikiran.
Aku tidak pernah pandai dalam mengingat apa-apa yang tidak ada di dalam imaji. Aku tidak pandai dalam menghafal nama suatu arti , atau suatu ilmu yang telah memiliki nama.
Kendati demikian , ternyata aku selalu bisa memahami isi ketimbang nama. Entah , apakah ini suatu kelebihanku atau malah kekuranganku , di satu sisi aku merasa bangga , namun di sisi lain aku merasa khawatir tak karuan.
Belum aku selesai memahami diriku perihal "keikhlasan" , ada suatu rasa yang menyeruak dalam hidupku yang menuntut untuk segera kupelajari juga. Terus terang , aku bingung , linglung seperti angin yang terombang-ambing kesana kemari tanpa pernah tahu apa yang seharusnya dipelajari dan dinikmati.
Ya , benar. Aku tidak begitu menikmati semua ini. Ada sebuah rasa yang hilang. Aku merasa hampa dan dipenuhi oleh penat. Atau jangan-jangan , kehidupan memang seperti ini? atau bisa jadi orang-orang yang bahagia dalam kesibukannya hanyalah orang-orang yang pandai berdusta? Sungguh , di atas kepalaku sekarang , sebuah tanda tanya besar menjulang.
Hidup ini serasa lebih banyak kesedihan , daripada kebahagiaan.
Memang , kebahagiaan memang pernah aku rasakan , namun mengapa selalu saja ia berlalu begitu cepat? sampai-sampai untuk menikmatipun , aku tak sempat.
Namun ketika kesedihan yang menyelimuti langit-langit hidupku , ia menetap disana begitu lama dan ironisnya , aku mampu menikmatinya meskipun dengan pedihnya luka dan kelamnya nestapa.
Jujur saja , aku memiliki sejuta tulisan yang belum "matang" , yang masih menggantung di dalam ranting hatiku. Tapi aku yakin , tidak semua penyair mampu menuai seluruh isi hatinya ke dalam sebuah tulisan.
Aku yakin pula hidup memang begitu , selalu ada rasa yang malu-malu untuk menyembul keluar.
Pernah beberapa kali aku mencoba untuk bermimpi , tapi mengapa di dewasa ini , sangat takut sekali untuk bermimpi , atau untuk sekedar percaya bahwa suatu hari aku bisa.
Pendapatku , mungkin aku telah berpikir menggunakan logika dan kejadian-kejadian yang kemungkinan besar akan terjadi. Bukan su'udzon atau pun pandai meramal , hanya prediksi yang ilmunya tertimba dalam kejadian-kejadian yang sudah lalu.
Ya , mungkin saja semacam trauma. Tapi mungkin benar , di sekian kalimat yang terlontar dalam tulisanku kali ini , hanya ada satu kalimat yang menyembul dan berontak untuk tumpah menjadi tulisan.
"Ya , Aku hanya takut dan
Kesepian".



Komentar
Posting Komentar